Menginvestigasi Kebenaran Agama

14 03 2008

Menginvestigasi Kebenaran Agama

Dalam suatu kesempatan di Yogyakarta tahun 2006 yang lalu, aku menyatakan , “I do believe that all religions are true, but I do not believe if every adherent in the right way”. Pernyataan itu aku sampaikan pada seorang pendeta dan seorang muslim tulen. Mereka tidak memberi reaksi yang menolak, tetapi mereka juga tidak menerimanya secara terus terus. Pernyataan itu aku pahami sebagai tahapan perjalananku di dalam menempuh kebenaran. Sehingga pada tingkatan ini aku sangat mungkin terjerat dalam kesalahan dan kekeliruan. Wallahu a’lam.

Sehubungan dengan hal tersebut, akupun semakin menyadari bahwa semua agama benar, tetapi tidak setiap pemeluk agama di jalan yang benar. Karena kebenaran suatu agama terkait kuat dengan pengalaman, pemikiran, perasaan setiap subyek yang memeluknya. Artinya, kebenaran puncak suatu agama bisa sangat subyektif. Oleh karena itu, sesuai dengan judul di atas, tidak ada salahnya jika kita melakukan investigasi terhadap kebenaran agama. Langkah ini perlu kita tempuh bukan untuk meragui eksistensi agama-agama yang sudah ada, melainkan membenahi kembali pemahaman, penghayatan, dan pengamalan diri kita atas nama agama. Jangan-jangan apa yang selama ini kita sandarkan sebagai kegiatan keagamaan ternyata justru jauh dari agama. Singkatnya, saatnya kita membenahi kembali persepsi diri kita atas agama yang kita yakini. Dengan demikian, kita tetap mensucikan agama sebagai sumber kebenaran.

Dalam konteks Indonesia, secara pribadi saya prihatin, Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut agama ternyata menduduki peringkat ketiga sebagai negara terkorup di dunia (2003). Ini suatu fakta yang mencengangkan banyak kalangan. Seakan agama hanya menjadi label dan identitas sosial semata, tetapi tidak menjadi “ruh ” suci dalam menjalankan kehidupan di jalan yang berkebenaran. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam.


Tindakan

Information

2 tanggapan

17 03 2008
banyuwening

Terima kasih atas komentarnya Om Aak. Tapi apapun namanya, bukan maksudku untuk menilai pengalaman seseorang dalam kelemahan atau dalam kekuatan imannya. Tulisan ini sengaja aku munculkan untuk sekedar mempertanyakan kembali akan keberagamaan kita terhadap kebenaran agama yang selama ini kita yakini. Tetapi yang terpenting yang perlu kita lakukan adalah senantiasa menelusuri dan membangun persepsi kita atas kebenaran agama. kita jangan berhenti dengan kebenaran agama menurut persepsi diri kita. kita perlua melakukan share dengan pihak lain. karena dalam diri manusia tidak ada kebenaran sejati. kebenaran sejati hanyalah milik Tuhan.

2 04 2008
banyuwening

Agama bukan untuk dipikirkan. dari dulu agama memang sudah begitu. Hanya pemahaman kita atas agama (yang terkadang agama kita kendalikan sesuai dengan selera kita itu) yang kita pikirkan. begitu Bapak.

banyuwening.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.